Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

aal's Site

Blog EntryApr 13, '11 2:16 AM
for everyone


Sengat matahari masih kalah dari hawa pagi hari 4 april 2011. Saya yang terbiasa tidur telat, nyatanya harus memaksakan diri juga hari itu. Pukul enam, Bintang sudah goyang tubuh saya, hal yang tak akan dapat gubrisan jika dilakukan teman yang sudah lama kenal..hehe.

Menggunakan motor bebek, Bintang bonceng saya dan Odin ke arah tenggara. Sekitar tiga atau empat kilometer menempuh jalan beraspal, lalu berbelok ke kanan melewati jalan tanah. Pohon-pohon besar di kiri dan kanan jalan. Pemandangan yang jarang. Harum embun pagi menyesap hidung, mencuci paru-paru kota saya yang kotor akibat asap kendaraan dan kebiasaan menghisap tembakau.

Kami sampai ke sebuah rumah tak seberapa besar. Lantai tanpa keramik dengan dinding yang tidak dihaluskan dengan semen. Di ruang tamu sudah ada Mas Kus, mengerjakan desain spanduk dengan laptopnya. Laporan amdal fotokopian bersampul biru tergeletak di sisi kanan.

Kami berkenalan, lalu sekejap Mas Kus cerita banyak. Baru beberapa minggu dia mencoba bertani di Kulon Progo. Menanam cabai seperti petani lain di daerah ini. Entah, apa pilihan itu ada hubungannya dengan studi ekologi politik  yang baru dia selesaikan. Tapi sepertinya berhubungan dengan perlawanan terhadap negara dan korporasi yang sedang dia lakukan bersama masyarakat Kulon Progo saat ini.

 

Pasir Kutukan

Daerah ini dinamai Kulon Progo karena terletak di sebelah barat sungai Progo. Dari Kota Jogja, bisa ditempuh selama 90 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. Letaknya di pesisir pantai, membuat udara lengket dan berpasir. Belakangan daerah ini banyak menjadi perbincangan di gedung dewan perwakilan rakyat dan media massa.

Lantaran pasir pantai di Kulon Progo yang membentang sepanjang 22 kilometer diketahui memiliki kandungan pasir besi, berbagai pihak berusaha untuk memanfaatkannya. Bukan sekedar pasir besi, tapi pasir besi nomor satu yang mengandung mineral vinadium. Jenis ini sangat langka di Indonesia, dan berguna untuk produksi baja kualitas wahid. Investasi sebesar 600 juta dollar AS ditanam. Diperkirakan, di tanah seluas sekitar 3 Hektare, terdapat cadangan pasir besi sekitar 33, 6 juta ton. Kutukan sumber daya alam pun dimulai.

Jikalau terealisasi, penambangan akan menggusur lahan pertanian dan pemukiman. Lebar daerah eksplorasi sekitar 1,8 kilometer dan akan menggusur rumah tua tempat saya tidur kemarin malam.

 

Hantu-hantu Gerbong

Pemilik rumah tersebut sudah wafat, dan anak-anaknya memersilahkan warga untuk menggunakannya. Warga mengubahnya menjadi stasiun radio yang dinamai Gerbong Revolusi. Akhir tahun 2010, seorang berkebangsaan Amerika Serikat datang ke Kulon Progo. Dia ajari warga membangun radio komunitas. Dengan seperangkat transmitter dan satu set komputer, perlawanan mengudara dari Kulon Progo.

Jika pekerjaan di lahan sedang tidak banyak, para pemuda bersiaran. Memutar lagu pesanan, mengabarkan perlwanan dari daerah lain, hingga mencaci korporasi dan pemerintah yang kapitalistik. Adakalanya siaran berisi info kesehatan mengenai pemanfaatan obat-obat herbal untuk mengatasi penyakit. Kalau musim panen diinformasikan harga terakhir cabai di pasaran untuk menyamaratakan harga jual dari petani ke pengumpul.

Dalam Gerbong juga ada perpustakaan. Buku-buku hukum dan pertanian diletakkan seadanya di atas rak besi. Ada juga majalah-majalah berbahasa Inggris. Ketika satu pagi saya putuskan membaca bungai rampai tulisan Tjondronegoro, debu keluar bersamaan dengan bukaan lembar pertama..hehe.

Yu Djum, perempuan muda yang biasa bersiaran di akhir minggu tak berani bersiaran sendirian. Dia bilang Gerbong berhantu. Bisa jadi. Saya perkirakan roh Emilio Zapata atau Chico Mendez sempat mampir kesini. Merasuk dalam diri para petani, mewujud dalam semangat perlawanan.

 

Kami melawan kapitalisme

Malam itu, 6 April 2007. Hujan deras di luar Gerbong. Di dalam obrolan menghangat. Beralas tikar, seorang petani muda bertanya pada Nina.

"Did all zapatistas wear masks whereever they go?," Saya menerjemahkan seadanya, berharap kalau pertanyaan setidaknya bisa dimengerti.

Nina mengulang jawaban pertanyaan saya kemarin malam sambil tertawa. Dua hari ini, dia dihujani pertanyaan mengenai gerakan sosial yang dilakukan para petani Meksiko dari pedalaman hutan Lancandon, negara bagian Chiapas, Meksiko itu. Nina berbagai sedikit pengalamannya ketika berkunjung dan menetap selama beberapa minggu di kawasan yang dikuasai oleh para anggota Zapatista.

Seperti halnya para petani Kulon Progo, Nina berjuang dalam gerakan sosial. Dari kelompok sosialis dia menimba sumur Marxisme ketika memulai aktivitas politik di umur 16. "Di Denmark, gerakan sosial bisa dihitung. Eksistensi dan keberlanjutan gerakan sosial juga masalah di negara saya," tukasnya dalam bahasa Inggris.

Sekarang, di sela-sela kesibukannya menjalankan S2 Antropologinya di Copenhagen University, Nina bergabung dalam kelompok Anarkis Antifa dan juga kelompok radical enviromentalis. Menurutnya, masalah lingkungan terkait erat dengan kapitalisme. Analisis mengenai perusakan lingkungan erat kaitannya dengan penghisapan kelas dan akumulasi nilai lebih dalam kapitalisme.

"Saya pikir gerakan yang dilakukan Zapatista berbeda dengan di sini (Kulon Progo). Mereka terbentuk karena tekanan pemerintah. Mengawali gerakan dengan hidup nomaden dan lari dari kejaran tentara. Di Kulon Progo, masyarakat sudah menetap, dan gerakan terbentuk sebagai bentuk dari sikap memertahankan lahan," saya terjemahkan ucapan Nina ke dalam bahasa Indonesia, agar yang lain mengerti.

Sekejap, Mas Wid menukas, "saya pikir sama. Seperti Zapatista, kami melawan kapitalisme,". Nina mengangguk mengiyakan.

 

Cerita dari Kulon

Sekitar pukul sembilan pagi, 6 April. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke telepon genggam. “Kamu ke rumah sekarang ya. Makan dulu, ajak teman-teman,” tukas Mas Widodo di ujung telepon.

Hujan besar sejak malam, dan gerimis di pagi hari membuat Mas Wid memutuskan tidak pergi ke ladang hari itu. Alih-alih dia menemani dan menyuguhi kami sarapan makan. Sambal bikinan istrinya, bersama tempe goreng dan telur dadar. Ah, buat saya hanya kalah dengan segelas kopi. Hampir tiap hari saya, Odin, dan Nina makan di rumah Mas Wid. Gratis!

Selepas makan, kami berbincang. Sempat bekerja beberapa tahun di Malaysia, Mas Widodo memilih kembali ke Yogyakarta. Menjalani hidup sebagai petani di lahan sekitar 1200 meter persegi. “Enak jadi petani kalau mau kerja ya ke ladang, kalau ngak yang begini saja,” ujarnya. “Kalau penambangan jadi, kan sama saja jual nyawa. Daripada begitu, mendingan sekalian pertahankan tanah ini sampai mati,” tukasnya tegas.

Satu malam mas Wid bilang, “Sekarang saya baca buku tentang Zapatista. Suatu kali kami (petani Kulon Progo) akan membaca buku yang bercerita tentang kami.”

 

Inilah akar rumput

Sejak masih dalam perjalanan menuju Kulon Progo, Bintang selalu berpesan pada saya, “kalau ada yang Tanya bilang temannya mas Wid (Tonjeh). Menurutnya, warga selalu memiliki kewaspadaan tinggi. Jika ada orang tak dikenal, mereka bersiap jikalau orang itu adalah wakil dari perusahaan atau konsultan Amdal. Mekanisme yang wajar. Rencana penambangan pasir besi membuat tingkat kecurigaan warga meninggi.

Seperti halnya Mas Kus, Bintang sempat mengecap pendidikan di Universitas. Dia belajar hukum. Sempat bekerja di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat, dan terpikir untuk menjadi wartawan, Bintang memutuskan untuk jadi petani. Kulit hitamnya, dihiasi beragam tato. Hobi berselancar membuat otot-otot di badannya terlihat kencang.

Kami suka berbincang tentang pengalaman masa lalu kami aktif di organisasi mahasiswa sayap kiri. “Dulu aku punya buku yang disebut kitab suci. Sampulnya merah. Isinya materi-materi kursus ekonomi dan politik. Aku baca Lenin dan Mao, tapi tidak baca Marx” tukasnya bercerita. Salah satu kesamaan pengalaman kami adalah kenyataan kalau kami justru belajar dan membaca langsung karya-karya Marx selepas vakum dari organisasi mahasiswa ekstra kampus.

Nampaknya, bertani akan jadi pilihan hidup Bintang. Seperti lainnya, dia beranggapan kalau bertani  membuat hidup dia bebas, tidak bekerja pada orang lain.

Sore itu 4 April. Saya, Odin, dan Bintang lanjutkan pekerjaan pagi tadi. Kami bicara panjang. “Aku kesal kalau mahasiswa bilang mereka itu akar rumput,” tukas Odin. Saya menjawab sok tahu “ah, itu kan konsep tipu-tipu saja.”

“Ini baru akar rumput,” tutup Bintang sambil mengangkat gulma dari ladang dan menunjukan akarnya pada kami. Ucapannya disambut tawa kami bertiga.


achillesthemighty wrote on Apr 13, '11
tulisan, kisah, dan hidup yang menarik, im really impressed and envy you somehow :)
detefabulanarratur wrote on Apr 14, '11
hehehe..ini mah penelitian buat skripsiku, cil. Tapi, entah bagaimana di Kulon Progo, jenis bisa ketemu jenis. Aku belajar banyak justru dari mereka yang sekolahnya ngak setinggi aku. Salah satunya kalau hidup itu pilihan..hehe
achillesthemighty wrote on Apr 15, '11
Aku belajar banyak justru dari mereka yang sekolahnya ngak setinggi aku. Salah satunya kalau hidup itu pilihan..hehe
yang sekolahnya tinggi malah banyak yg memilih hidup tanpa sadar. mungkin itu bedanya. yang pintar sama yang "pintar". :)
Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap
Template design Copyright © 2005 Jeff Miller